Selamat Datang Di Website Resmi Pondok Pesantren Al-Ansor

Berita

Buya Abdullah Syukur Lubis: Ulama Mumpuni dengan Akal Merdeka dan Humoris

Humor merupakan sisi lain yg tak terlupakan dari pesantren, siapa pun yg pernah mondok hampir pasti pernah mengalami hal lucu baik di lingkungan pesantren maupun di ruang kelas, Buya Syukur yg akrab disapa dengan Buya Salambue satu dari sekian banyak tenaga pendidik di Al-Ansor yg diidolakan oleh santri-santrinya, baik pokir maupun fatayat,
Kepiawaian beliau memadu humor dengan kajian kitab kuning menambah gairah santri untuk mendalaminya, Rigiditas Fiqh dan dalamnya studi tafsir amat begitu gamblang ketika ia jelaskan, mengalir bagaikan anak sungai dengan kedalaman makna yg membasuh setiap hati pendengarnya,
Humor segar beliau bukan pepesan kosong tapi memiliki sisi rasionalitas yg mencerahkan, jarang sekali saya temui humor sepadat itu,
Sebagai guru besar dalam studi Islam, beliau mendedikasikan diri untuk mengangkat level berpikir santri-santrinya, satu adagium yg sangat terkenal yg sering beliau ucapkan, ulangko songon bubusan goti satiop namayup ipartolonan, ungkapan ini sesuatu yg tidak biasa karena keluar dari mulut maha guru yg pendidikannya ditempa di lingkup Islam tradisionalis,
Beliau yg sempat mengecap pendidikan tingggi di IAIN-SU (sekarang UIN-SU) ini, selalu mengajak untuk kritis dan memikirkan setiap fenomena, bukan sekedar menerima atau taqlid buta kepada sebuah pendapat,
Di dalam dirinya sebagai seorang Ulama dan intlektual terpancar pikiran-pikiran humanis, beliau anti kekerasan dan penindasan hingga akhir hidupnya, nada perlwanan terhadap setiap ketidakadilan sering beliau suarakan,
Saya juga menemukan beliau sebagai orang yg rendah hati, tidak mau meninggi, sering kali ayat demi ayat beliau lantunkan seketika, bagi saya beliau adalah Qur'an berjalannya Al-Ansor, beliau juga tidak pernah mengaku sebagai Hafiz meski sudah banyak menghapal Qur'an, saya menyebut beliau dengan sebutan Hafiz yg misteri, sebutan ini bukan sekedar kekaguman malah sesuatu yg wajar, karena ada fakta dan pengakuan dari orang banyak, salah satu jamaahnya mengatakan, bahwa kami telah menamat tafsir Ibn Katsir dengan beliau sebanyak 3 kali,
Nama besarnya sebagai seorang Ulama bukan hanya semerbak di Al-Ansor, bagi kalangan tua, khususnya di Padangsidimpuan nama beliau tidak asing lagi, ramah tamah kepada setiap orang, menghargai orang lain dan tidak rewel menjadi karakter sehari-harinya,
Pertemuan saya dengan beliau mulai tahun 2009 sampai pada akhirnya berpisah tahun 2016 banyak mewarnai langkah dan cara saya bersikap, beliau saya anggap bukan hanya sebagai guru bahkan sebagai bapak yg selalu memberikan pencerahan di setiap langkah hidup saya, beliau mengajari saya arti serius dan santuy,
Mengenang kembali Buya Syukur Lubis tak terasa membuat air mata menetes, ketulusan hatinya membimbing umat layak diteladani,
Kepadanya mari kita kirim sepotong do'a
Alfatihah!!!!

Penulis : Dr. Suheri Saputra Rangkuti, M.Pd