Selamat Datang Di Website Resmi Pondok Pesantren Al-Ansor

Berita

KH. Sayuti (Buya Piko:Pijorkoling) Ketulusan Seorang Ulama dan Pendidik dengan Konsep Sejuta Kasih Sayang

Mendidik bukanlah persoalan sepele, buktinya banyak orang mendidik hanya menyentuh nalarnya saja, itu sebabnya banyak orang yg tau kesalahan namun tidak merasa bersalah ketika ia melakukannya, pendek kata, proses pendidikan yg memisahkan perasaan dan keyakinan yg berdimensi ilahiyah adalah pendidikan yg nonsen, kosong sama sekali,
Buya Piko begitulah sapaan akrabnya, adalah Ulama dan pendidik yg tidak pernah memisahkan antara rasa bertuhan dan akal, keduanya acap kali menjadi tema pokok dalam setiap pembahasannya di dalam lokal, di satu sisi beliau menjelaskan bagaimana tata cara sesuatu itu dilakukan di sisi lain beliau mengahdirkan rasa bertuhan, mulai dari menanamkan keihklasan sampai bergantung kepada Tuhan dengan keyakinan,
Sebagai saksi hidup, saya melihat beliau datang mengajar tanpa beban, wajah dengan penuh senyum memancarkan isyarat bahwa mendidik baginya adalah wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah bukan hanya untuk melepaskan tanggungjawab sebagai pengajar,
Sebagai pengajar, beliau mendidik secara totalitas, artinya bukan hanya mengandalkan penjelasan akan tetapi seluruh prilaku dan tindakannya adalah bahan ajar yg pantas ditiru, tidak berlebihan jika saya mengatakan beliau adalah inspirasi baik di lokal maupun di luar
Ada sebuah adagium yg mengatakan guru yg marah-marah adalah guru yg kurang pandai mendidik, saya tak pernah menemukan beliau mendidik dengan amarah, beliau di sayangi oleh santri-santrinya laksana ayah kandung sendiri karena beliau memposisikan santrinya sebagai anak kandung sendiri
Saya juga santri beliau, darinya saya berguru tentang istiqomah dan berpendirian tidak lari ke sana dan kesini seperti layangan putus yg hanya mencari arah angin yg paling kuat,
Beliau adalah maha guru yg mengajarkan banyak hal, Buya Zain seorang saksi hidup mengatakan bahwa Buya Piko pernah melarang untuk semena-mena terhadap alam, jangan menembaki burung, harus memperbanyak tanaman, sampai saat ini di Al-Ansor banyak burung liar dan banyak tanaman laksana surga hidup di tepian Padangsidimpuan
Buya Piko sangat memegang teguh tradisi pesantren, seluruh kajian keislaman beliau sampaikan berdasarkan kitab kuning yg beliau bahas secara tuntas. Sanad keilmuannya masih bersambung kepada Kiai-Kiai Musthafawiyah di masa awal, beliau sering berpesan jangan keluar dari ahlissunnah waljamaah,
Beliau adalah mutiara kesabarannya menjadi kemilau atas keulamaannya, di bawah asuhannya santri yg bandel bisa melunak, kajian yg berat terasa ringan, beliau adalah ulama zohir dan batin yg keikhlasannya bisa dirasakan oleh siapa pun yg menemuinya,
Semoga Allah menaungi beliau dengan ridhonya
Alfatihah !!!

Penulis : Dr. Suheri Saputra Rangkuti, M.Pd